Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Balita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Balita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 November 2011

Tips Memberi Permen Pada Balita

Rasa permen yang enak dan manis membuat balita ketagihan. Apalagi jika tidak ada aturan di rumah mengenai konsumsi permen. Permen tidak akan menjadi buruk, jika dikonsumsi dengan tepat secara moderat dan memilih permen yang bermutu baik. Berikut tip memberi permen pada balita:
Frekuensi.
  • Ciptakan hari makan permen satu bulan sekali. Atau, jadikan permen hadiah istimewa dengan frekuensi pemberian tidak sering. Jumlahnya maksimal 2 butir.
Pilih yang sehat.
  • Pewarnanya harus pewarna makanan.
  • Gula murni bukan buatan (misalnya, sakarin dan siklamat yang meninggalkan after taste getir di lidah).
  • Tidak berformarlin (seperti permen white rabbit, manisan asam Kiamboy, permen Anggur), tidak ber-kola atau berefek pop rock.
  • Gum di permen lunak terbuat dari getah tumbuhan, aman ditambahkan.
  • Permen jelly yang kenyal, bahannya bisa tepung konyaku atau gelatin. Tepung konyaku dari umbi-umbian, dari sisi kehalalan lebih aman dari gelatin. Permen berbahan serat dari jeli melancarkan pencernaan dan menurunkan kolesterol darah.
  • Permen cokelat baik dikonsumsi karen amngandung lemak, karbohidrat, protein, asam amino triptofan, fenilalanin, serta tyrosin.
Reputasi produsen.
  • Dikemas baik dan higienis, mencantumkan kandungan, kode produksi dan kadaluwarsa, dan izin Departemen kesehatan RI.
  • Hindari permen home industry yang asal-usulnya tidak jelas, misal, cotton.
  • Hindari permen yang pernah diberitakan berbahan berbahaya, seperti permen impor dari Cina.
Aman bagi balita.
  • Misal, loli bertangkai, permen kunyah atau chewy yang mudah dimakan.
  • Hindari permen keras isap (jika balita belum bisa mengontrol kemampuannya menelan supaya tidak tersedak), permen karet (bahaya tertelan), dan permen sangat pedas.
  • Jangan beri permen berbentuk rokok, karena studi di Unversity of Rochester, AS, menyebutkan merokok permen di masa kecil menyebabkan kebiasaan merokok saat dewasa. Diduga karena menguatkan persepsi merokok sebagai aktivitas pergaulan.
  • Ajarkan cara memakan permen yang benar. Permen isap jangan langsung digit tapi diemut hingga kecil, jangan keluar masuk mulut, jatuh harus dibuang, tidak gentian menghisap dengan orang lain.
  • Jangan makan permen sebelum makan, agar tidak merusak nafsu makan.
  • Jangan mengulun terlalu lama dapat mempengaruhi kesehatan gigi. Maksimal 30 menit.
  • Cuci mulut setelah makan permen dari sisa gula, minum atau kumr air putih. Sikat gigi akan lebih baik.
  • Puasa permen saat batuk.
  • Permen suplemen tidak bisa dimakan bebas, harus sesuai petunjuk.
  • Bila terlanjur hobi makan permen, atasi dengan beri camilan manis lain yang lebih sehat, jangan simpan permen di rumah, tolak permen sebagai uang kembalian supermarket, jangan pilih permen sebagai goody bag ulang tahun.
  • Edukasi balita untuk tidak menerima permen dari orang asing, atau selalu menunjukkan permen dari luar kepada Anda untuk dicek dulu.

Rabu, 09 November 2011

Balita Dan Kebutuhan Suplemen


Saat ini orangtua mulai memperhatikan pentingnya Suplemen untuk pertumbuhan Balita mereka. Ditambah iklan dan penawaran Suplemen Balita dengan berbagai merek yang banyak beredar di pasaran melalui Iklan TV, Internet, Majalah, dan penawaran di Mall atau Supermarket. 
Namun, terkadang orangtua memberikan Suplemen kepada Balita hanya karena pengaruh Iklan, omongan teman, atau malah untuk gaya-gayaan. Wah...kalau untuk alasan yang terakhir, bisa berabe nih....
Menurut beberapa sumber yang saya baca, sebenarnya tidak semua Balita membutuhkan tambahan asupan Suplemen. Karena Suplemen itu berfungsi sebagai pelengkap, artinya bukan menjadi faktor utama kebutuhan. Nah, kalau Balita kita sehari-hari sudah terpenuhi kebutuhan gizi dan vitamin melalui makanan dan minuman yang dikonsumsi, maka Suplemen boleh ditiadakan dari daftar kebutuhan asupan tambahan Balita. Jadi, kalau Balita kita sudah rajin minum susu, makan semua jenis sayuran, ikan, daging, buah, dan makanan bergizi lainnya, maka tidak perlu lagi diberikan Suplemen vitamin tambahan. Karena pemberian Suplemen yang berlebihan akan menimbulkan gangguan kesehatan anak di kemudian hari. Misalnya kelebihan vitamin A akan menimbulkan rasa mual, pusing.
Namun ada beberapa tipe Balita yang memang membutuhkan Suplemen vitamin, contohnya tipe Balita yang sulit makan atau pemilih ( ini tipe anak saya nih...) dan Balita yang menderita autis atau penyakit gangguan hati kronis. Balita yang sedang berdiet karena obesitas juga memerlukan Suplemen untuk mencukupi kebutuhan vitaminnya yang hilang akibat diet tadi. Sedangkan untuk Balita yang vegetarian perlu diberikan Suplemen vitamin B12 untuk menambah tenaga yang biasanya didapat dari daging.
Pemberian Suplemen sebenarnya lebih bertumpu pada perasaan “aman” si orang tua. Terkadang ada orangtua yang merasa kebutuhan vitamin dan gizi Balita tidak terpenuhi karena sehari-hari Balita diasuh oleh orang lain yang kurang memperhatikan nilai gizi setiap makanan dan minuman Balita. Nah, kalau para orangtua merasakan hal seperti itu sebaiknya berkonsultasilah terlebih dahulu dengan dokter atau ahli gizi untuk mendapatkan saran yang tepat tentang pemberian Suplemen kepada Balita.

Selamat Tinggal Minum Susu dari Botol!

Menjelang tiga tahun, telah tiba saatnya bagi si kecil untuk meninggalkan kebiasaan minum susu dari botol. Kalau ia meneruskan kebiasaan ini, sejumlah dampak negatif sudah menanti, seperti:

- Rahang dan pertumbuhan gigi terganggu. Rahang menjadi agak maju sehingga bentuk wajah kurang seimbang dan pertumbuhan gigi jadi jelek (tonggos).

- Kemampuan bicara terganggu. Anak jadi terlambat bicara, atau pengucapan katanya jadi
kurang sempurna dan sulit dimengerti.

- Secara emosional perkembangannya juga terhambat karena ia merasa masih kecil terus (karena masih ngedot seperti adik bayi).

Nah, agar ia bersedia meninggalkan kebiasaan ini, langkah-langkah berikut bisa Anda coba:

- Beritahu dampak negatifnya. Beri contoh anak yang ngedot sampai besar dan apa yang terjadi dengan rahang dan gigi mereka.

- Belikan gelas khusus bergambar kartun lucu kesukaannya, atau tokoh pahlawan yang ia kagumi. Latih ia untuk terbiasa minum susu dari gelas baru ini. Jangan lupa memuji betapa pintarnya ia karena sudah mahir minum susu dari gelas.

- Lakukan ‘upacara perpisahan’ dengan botol dan dotnya. Ia bisa membuang sendiri botol dan dotnya ke tempat sampah.

- Perbanyak kegiatan lain yang membutuhkan perhatian dan konsentrasi. Misalnya, membaca buku-buku bergambar baru yang papa belikan untuknya, atau menggambar dengan krayon di kertas yang berukuran lebih besar, dll. Lakukan aktivitas yang menyenangkan terutama di jam-jam yang biasa ia gunakan untuk menikmati dotnya.

Anak Susah Makan? Ini Solusinya!

Si kecil melakukan gerakan tutup mulut? Suka melepehkan makanannya? Sebelum terlanjur khawatir dan mecekokinya dengan beragam vitamin, cek dulu beberapa hal di bawah ini:

1. Apakah jam tidurnya cukup? Anak yang susah tidur biasanya susah makan juga. Cara mengatasinya, usahakan membuat jadwal tidur yang lebih teratur dan lakukan ‘ritual’ malam yang menyenangkan.
2. Perhatikan jenis makanan anak, termasuk camilannya. Seringkali anak tak mau makan karena kenyang dengan camilan, termasuk susu. Coba kurangi susu, jus, dan aneka camilan lainnya (terutama yang mengandung gula). Dengan begitu, anak menjadi cukup lapar ketika jam makan tiba.
3. Pastikan porsi makannya sesuai untuk anak. Porsi makan besar cenderung membuat anak menolak menghabiskan makanannya.
4. Cek ke dokter apakah si kecil mengalami gangguan fisik yang menyebabkannya menjadi sulit makan. Misalnya, sariawan, radang tenggorokan, atau gigi berlubang.

Selasa, 08 November 2011

Manfaat Corat-coret Balita

Coretan adalah ekspresi pertama kreativitas seorang anak. Para ahli perkembangan berpendapat bahwa kreativitas adalah jembatan utama proses belajar. Kreativitas yang terasah baik sejak kecil, akan memberi anak kemampuan memecahkan berbagai masalah yang dihadapinya, baik dalam pekerjaan atau kehidupan sehari-hari kelak. Jauh sebelum balita menjadi orang penting karena penemuannya, kita perlu lebih dulu menghargai kreativitas pertamanya, yang berupa coretan, di usia 1 tahun.Di balik titik, garis dan lengkung yang dibuatnya, banyak manfaat yang bisa didapat dari aktivitas corat-coret bagi balita. Seperti Pablo Piccaso yang menghasilkan master piece pertamanya, The Picador, di usia 8 tahun, balita Anda pun bisa.

Dukung Insting Dasarnya! Dalam buku Young at Art: Teaching Toddles Self-Expression, Problem-Solving Skills and an Appreciation of Art, yang ditulis Susan Striker, dijelaskan bahwa coretan pertama anak mencerminkan perkembangan kemampuannya. Seperti berjalan, mencoret dikategorikan sebagai insting dasar yang dibawa anak sejak lahir, dan merupakan milestone perkembangan yang wajib ditunggu. Selaras dengan penjelasan tersebut, Alice Sterling Honig, PhD, profesor bidang perkembangan anak dari Syracuse University, New York, dalam jurnal perkembangan anak, Wiley, edisi Maret 2010, mengatakan bahwa coretan anak menandakan kemajuan integratif yang dialaminya, baik di bidang kognitif, emosi, maupun motorik.

  • Perkembangan motorik, koordinasi tangan-mata. Ketika mencoret, anak berlatih mengendalikan gerak organ tubuh. Setiap gerakan alat tulis atau gambar yang digunakan, menuntut anak mengendalikan gerakan bahu, tungkai lengan, hingga jemari, yang menggenggam alat tulis itu. Selain itu, ketika mencoret anak belajar memadukan gerakan tangan dengan mata.
  • Ekspresi emosi, menjajal sensori. Pada usia 1 tahun anak bisa merasakan berbagai sensasi dengan panca inderanya. Kemampuan itu mendorong anak bereksperimen, yaitu dengan cara menjajal berbagai permukaan materi untuk dicoret-coret. Merasakan sensasi berbagai media saat mencoret, memberi anak pemahaman sebab akibat, karena ia bisa mengamati hasil perbuatannya pada media yang berbeda. Sensasi yang dirasakan menyenangkan, mendorong anak makin ekspresif mencoret.
  • Pengenalan awal menulis. Tahapan awal mencoret yang dilakukan anak dimulai dari sebuah titik, kemudian garis lurus patah-patah, hingga menjadi kumpulan garis melengkung yang mirip benang kusut. Dr. Alice Honig menjelaskan, di akhir usia 2 tahun anak akan bisa menggambar garis tunggal, meski belum lurus. Menurutnya, menggambar garis tunggal yang jelas ujung dan pangkalnya, membutuhkan kematangan intelektual. Selain itu, jika kita perhatikan, di antara coretan anak akan terlihat bentuk-bentuk mirip huruf. Menurut Alice, "Itulah yang menjadikan aktivitas mencoret penting untuk didukung orangtua, sebab menyiapkan anak untuk belajar menulis kelak."
 Karena begitu pentingnya aktivitas mencoret, dukung anak melakukan aktivitas itu, caranya:
  • Siapkan media untuk coret-coret dan biarkan anak mencoba berbagai jenis media coretan, misalnya, berbagai jenis kertas, karton, tembok, atau papan. Pastikan kebutuhannya cukup terpenuhi. Sediakan kapling khusus di tembok untuk dicoret-coret, dan beli papan tulis yang tulisannya bisa dihapus agar anak bisa puas mencoret.
  • Kenalkan pada berbagai alat tulis. Sediakan alat tulis yang mudah digenggam, misaknya, marker bergagang besar atau krayon panjang. Warna alat tulis sebaiknya cerah, untuk mengasah indera penglihatan.
  • Ajarkan metode mencoret tanpa alat, misalnya finger painting. Mencoret-coret dengan jari, memberi sensasi berbeda karena anak langsung bersentuhan dengan materi dan media menggambar.
  • Sediakan waktu untuk mencoret bersama anak. Akan semakin menyenangkan jika anak mencoret-coret ditemani orang tuanya. Pendampingan Anda membuatnya merasa aman dan nyaman, sehingga semakin terdorong bereksplorasi.
  • Tidak kelewat panik bila anak mencoret-coret tidak pada tempatnya, misalnya pada dinding, seprai tempat tidur, taplak atau pintu kulkas. Hm, mungkin itu karena balita tidak tahan melihat bidang bersih dan ingin menggoreskan "karyanya" di sana! Segera bersihkan coretannya dan ingatkan anak sekali lagi untuk tidak mencoret-coret di sembarangan tempat. Dalam periode belajar corat-coret, ada baiknya Anda gunakan cat tembok jenis mudah dibersihkan.
  • Tidak berharap anak memiliki bakat melukis, karena terlalu dini menentukan bakat anak pada usia ini. Jadi, jangan tetapkan target apa pun Pastikan saja bahwa semakin sering anak mencoret, semakin luwes ia untuk menulis kelak.

Cermati Pilihan Susu Untuk Balita

Setelah anak berusia 1 tahun, Air Susu Ibu (ASI) hanya memenuhi 30% kebutuhan gizi anak. Makanan utama anak kini adalah makanan padatnya. Setelah usia setahun, susu hanya merupakan makanan tambahan bagi anak Ibu perlu mencermati pilihan susu untuk balita agar manfaatnya optimal.
  1. Porsi pas. Tidak berlebihan memberi susu pada balita meski susu adalah sumber gizi yang mendekati sempurna bagi anak karena dalam susu mengandung lemak, protein, karbohidrat, mineral (kalsium, fosfor), dan vitamin (A, D, E dan K). Konsumsi dua gelas atau 500-600 cc susu sehari cukup memenuhi kebutuhan gizinya saat ini.
  2. Susu formula atau susu segar? Susu formula bubuk untuk anak usia 1 tahun ke atas dikenal sebagai susu formula tumbuh kembang. Susu ini berasal dari susu segar, baik dengan atau tanpa rekombinasi zat lain (seperti lemak dan protein), yang dikeringkan dengan cara pengeringan semprot (spray drying). Komposisi dan kandungan zat gizi susu formula ini mengacu pada ASI, walau tidak akan pernah sama dengan ASI. Susu pasteurisasi dan susu UHT. Susu pasteurisasi adalah susu segar yang diberi perlakuan panas (63-72 ºC) selama 15 detik dengan tujuan membunuh bakteri patogen (penyebab penyakit). Sedangkan susu UHT (Ultra High Temperature) merupakan susu segar yang diolah menggunakan pemanasan tinggi (135-145 ºC) dan dalam waktu singkat (2-5 detik) sehingga bisa membunuh seluruh mikroorganisme. Kandungan nutrisi kedua jenis susu ini sebagian besar masih sama dengan kandungan aslinya, yaitu susu sapi atau susu binatang lain.
  3. Kiat memilih, membeli, dan menyimpan. Perhatikan kemasan susu, jangan lupa baca labelnya dan simpan dengan benar.
  4. Pembuatan yang cermat. Patuhi cara menyajikan susu formula yang benar dengan takaran yang tepat.
  5. Gonta-ganti merek. Untuk susu formula yang umum, Anda dapat saja berganti-ganti merek. Yang penting, balita suka –biasanya berkenaan dengan rasa, aroma, dan lain-lain-, tidak ada efek simpang seperti diare, kembung, muntah atau alergi, serta berat badannya naik sesuai yang diharapkan. Perhatikan aturan pelarutan, karena ada aturan pemakaian 1 sendok takar untuk 30 ml air dan 1 sendok takar untuk 60 ml air. Untuk susu formula yang dirancang untuk tujuan tertentu sesuai kondisi anak, misalnya anak dengan alergi susu sapi, intoleransi laktosa, atau anak dengan kelainan metabolik bawaan, maka harus atas anjuran dan di bawah pengawasan dokter.
  6. Bila timbul masalah. Alergi susu sapi, respons sistem kekebalan tubuh terhadap alergen (penyebab alergi). Pada reaksi alergi makanan, tubuh menghasilkan antibodi yang dikenal sebagai imunoglobulin E. Zat ini akan bereaksi dengan protein di dalam susu sapi dan produk olahannya. Gejalanya, antara lain, diare berdarah, muntah, sakit perut, eksim dan ruam kulit. Bila kebetulan anak mengalami kondisi ini, kemungkinan dia perlu diberi susu formula hipoalergenik, yakni susu berbahan dasar susu sapi yang protein susunya sudah 'dipecah' secara ekstensif, sehingga lebih mudah dicerna dan lebih kecil risikonya menimbulkan reaksi alergi. Konsultasikan hal ini pada dokter anak Anda. Intoleransi laktosa. Kondisi ini merupakan masalah saluran cerna karena kekurangan enzim yang mencerna laktosa (gula di dalam susu), yakni enzim laktase. Penyebabnya antara lain infeksi virus yang menimbulkan peradangan pada lambung dan usus. Ciri-ciri anak yang mengalami intoleransi laktosa adalah diare dengan ciri kotoran berair dan busa, kembung, dan kram perut, serta mengeluarkan gas sekitar 30 menit sampai 2 jam setelah minum susu. Bila kebetulan anak mengalami intoleransi laktosa, anjuran dokter adalah mengganti susu formulanya dengan produk susu berbahan dasar susu kedelai, atau susu formula berbahan dasar susu sapi yang rendah kadar laktosanya, bahkan bebas laktosa. Penggunaan kedua susu ini sebaiknya di bawah pemantauan dokter.
Alternatif Sumber Kalsium

o Ikan teri kering atau ikan teri segar dan rebon.
o Sayuran seperti bayam, sawi dan brokoli.
o Kacang-kacangan dan hasil olahannya seperti tahu dan tempe.
o Serealia seperti havermut dan jali.

Tips Gizi Tepat Untuk Daya Tahan Tubuh


Tips Gizi Tepat Untuk Daya Tahan Tubuh

Dengan semakin banyaknya kegiatan anak, maka semakin beragam pula ancaman penyakit yang mungkin menerpa. Boleh jadi udara di luar akan membuatnya lebih mudah terserang pilek; atau debu membuatnya bersin. Namun, Ibu tak perlu terlalu cemas selama kebutuhan gizi anak terpenuhi dengan baik. Apa saja yang diperlukan untuk mendukung daya tahan mereka?


Lemak
Diperlukan sebagai penyimpanan terbesar sumber energi tubuh. Otak yang sedang tumbuh juga memerlukan lemak yang tepat dan benar. Otak menggunakan 60% dari total energi yang dikonsumsi bayi, dan 60% dari otak adalah lemak. Lemak terbaik diperoleh dari ASI.


Karbohidrat

Sangat dibutuhkan sebagai salah satu sumber energi. Ibu harus memilih karbohidrat yang berasal dari zat tepung (gula) yang ‘baik’. Sumber gula yang ‘baik’ adalah ASI, apel, buncis dan kacang polong, produk olahan berbahan susu, buah segar, pasta, kentang, kacang kedelai, kentang, sayuran, dan biji-bijian.


Protein Protein adalah makanan untuk tumbuh, bertanggung jawab pada pertumbuhan serta memperbaiki dan mengganti jaringan.

Selama tahun pertama, kebutuhan protein bayi dapat dipenuhi oleh ASI

Sumber-sumber protein lainnya yang dapat diperoleh anak adalah melalui makanan laut, sperti ikan salmon, dan produk olahan berbahan susu yaitu keju dan yoghurt, polong-polongan seperti kacang kedelai, tahu dan buncis, daging sapi dan unggas, telur, mentega kacang, dan padi-padian.

Serat

Merupakan bagian yang tidak dapat dicerna dalam tepung dan buah-buahan, adalah pencahar alami yang membantu pembuangan produk sisa makanan dari usus.

Makanan garing dan kenyal seperti padi-padian dan polong-polongan adalah contoh serat yang baik, dan lainnya seperti buah-buahan dan sayuran.

Vitamin dan Mineral
Kedua zat gizi diperlukan tubuh anak, walaupun tidak dalam jumlah besar, karena membantu makanan yang dikonsumsi bekerja dengan lebih baik dan semua system tubuh berfungsi dengan baik.

13 Vitamin yang dibutuhkan yaitu A,C,D,E,K dan 8 jenis kalsium, fosfor, dan magnesium (untuk pembentukan tulang), zat besi dan tembaga (membangun darah), seng (mendorong kekebalan tubuh), sodium dan potasium (mengatur keseimbangan air dalam tubuh), serta beberapa minteral lain, yaitu yodium dan mangan.