Tampilkan postingan dengan label Disiplin Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Disiplin Anak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Januari 2012

Teknologi Perlu Bagi Anak, Tapi Jangan Kecanduan


Mengenalkan teknologi kepada anak memang bisa dilakukan pada usia dini. Karena secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh positif bagi anak. Tapi jangan sampai keterusan sehingga anak lupa waktu untuk aktivitas lain yang lebih berguna bagi tumbuh kembangnya.

Produk yang bisa membuat anak kecanduan teknologi sehingga lupa waktu, diantaranya:

Televisi. Salah satu kesalahan orang tua adalah membebaskan anak untuk melihat televisi kapanpun dan menyerahkan semuanya ke babysitter. Anda sebaiknya menyiapkan aktivitas yang menarik untuk balita Anda seperti permainan balok, aneka boneka (untuk perempuan) atau mobil-mobilan unik untuk anak laki-laki, atau permainan lainnya. Tujuannya agar balita Anda sibuk dan tidak terus terpaku pada acara televisi yang belum tentu berefek positif dengan usianya. Usahakan pula selalu menemani anak saat mereka nonton televisi agar mampu menyeleksi acara mana saja yang boleh ditonton dan tidak.

Komputer. Seperti halnya televisi, komputer kini bukan lagi barang aneh di setiap rumah dan bagi balita sekalipun. Tempatkan komputer di ruang keluarga sehingga dengan mudah Anda mengawasi apa saja yang dilakukan anak saat menggunakan komputer. Jika memungkinkan, sediakan komputer khusus untuk anak Anda dan didalamnya hanya diinstal program yang mendukung positif perkembangan anak.

Video game. Saat ini banyak variasi game yang kerap dijadikan rengekan anak-anak saat minta hadiah. Seperti Playstation, Nintendo, Xbox, Wii atau perangkat game lainnya yang kerap membuat anak lupa waktu. Anda bisa melarang sama sekali permainan video game tersebut. Atau Anda bisa membolehkan dengan aturan yang jelas, semisal maksimal hanya 1 jam sekali per hari. Cermati pula game-game yang dimainkan dan hanya sediakan game yang memang dibuat untuk anak-anak.

Kecanduankah Anak Anda?. Anak Anda bisa dikatakan kecanduan perangkat teknologi jika mereka:
- Melupakan waktu makan, waktu tidur terganggu atau bergeser dan malas masuk sekolah / prasekolah
- Hanya senang saat di depan komputer, TV atau video game, dan perilaku kurang baik saat anak Anda berhenti bermain
- Lebih tertarik dengan video game ketimbang bermain dengan teman
- Berbohong agar bisa main game
- Bisa memicu kegemukan karena badan anak kurang bergerak
- Mata memerah karena terlalu lama di depan layar komputer atau televisi

Sabtu, 10 Desember 2011

Latih Anak Disiplin, Mudah, kok!

Hindari pemikiran bahwa anak masih terlalu kecil mengenal disiplin. Disiplin perlu, lho, diterapkan sejak usia dini. Mulai usia 1-2 tahun atau biasa disebut dengan masa toddler, anak butuh batasan dan lingkungan yang jelas strukturnya.

Di usia 1-2 tahun anak sedang ingin mencoba sejauh mana ia bisa menguasai, mengatur atau memanipulasi lingkungan sekitarnya. Jika tidak ada batasan, anak akan belajar melepas keinginan sesuka hati. Jadi percayalah bahwa batasan atau aturan itu perlu, bahkan sejak dini.

Anak perlu tahu, ada batasan yang tidak boleh ia lewati, ada aturan yang harus ia ikuti. Ini juga nanti akan berdampak ketika anak mulai memasuki lingkungan sekolah. Dengan adanya aturan, anak juga akan merasakan adanya kepastian, dan ini akan memberikan rasa aman dan nyaman. Selain penerapan aturan konsisten, tentu diperlukan juga langkah-langkah disiplin lainnya yang pas untuk anak seusia ini. Berikut di antaranya:

- Time-out, prinsipnya adalah menghentikan atau mengeluarkan anak dari aktivitasnya karena perilaku kurang baik yang ia lakukan. Mengingat anak balita cenderung sulit diam, untuk kelancaran time-out Anda perlu menghentikan aktivitas Anda sendiri untuk menemani anak di sudut time-out selama waktu ditentukan.

Berapa lama? Waktu yang dianjurkan adalah satu menit untuk setiap tahun usia anak, misalnya 2 tahun, ya, 2 menit. Anak perlu merasakan time-out ini dengan diam di sudut dan tidak melakukan apa-apa. Temani anak dengan memunggunginya agar anak tidak merasa justru Anda menemani dan mengajaknya bermain. Lakukan ini secara konsisten dan anak pun akan mengerti konsep time-out ini.

Jangan lupa lakukan segera setelah perilaku negatif anak muncul. Anda juga bisa melakukan sebaliknya, misalnya anak membanting mainan sehingga rusak, Anda bisa memberikan time-out pada mainan tersebut artinya anak tidak boleh memainkan mainan tersebut selama waktu yang ditentukan.

- Pengalihan perhatian. Untuk anak yang masih sangat belia, terkadang lebih mudah menghentikan perilaku negatifnya dengan cara mengalihkan perhatiannya pada hal lain. Misalnya, ketika anak ingin memegang barang elektronik yang dikhawatirkan akan berbahaya, alihkan perhatian anak ke hal lain seperti mainan favoritnya. Anda juga bisa membawa anak berjalan keluar sehingga ia lupa akan tujuan awalnya.

- Mengabaikan perilaku tantrum. Ini terkadang agak sulit dilakukan para orangtua mengingat tantrum pasti hadir dalam bentuk emosional sehingga orangtua juga bisa ikut terpancing emosinya. Kendati sulit, anak perlu belajar bahwa dia tidak bisa mendapatkan keinginan dengan cara tantrum.

- Memberikan ketegasan positif pada anak. Cara ini seringkali lebih efektif daripada memberikan hukuman terhadap perilaku negatif anak. Anak Anda sebenarnya sedang berusaha 'mendata' mana saja dari perilakunya yang mendapatkan perhatian dari Anda. Oleh karena itu, berikan perhatian berupa pujian ketika anak melakukan sesuatu positif, maka kelak perilaku ini juga akan cenderung diulang anak karena dia tahu Anda akan memberikan perhatian padanya.