Rabu, 04 Januari 2012

Hadapi Balita yang Suka Membantah

Fase ‘No, no, no’ itu akan berakhir seiring bertambahnya usia anak. Menghadapi ulahnya yang sering membantah, lebih baik Anda  menggunakan cara-cara berikut: 
Merespon dengan humor. Jangan terpancing untuk marah, apalagi bila anak ngotot melakukan sesuatu yang tidak berbahaya.  Cukup katakan, ”Oh, kamu memasukkan kue ke gelas supaya kuenya berenang ya? Padahal kuenya lebih senang bila berada di perut kamu, lho.”
Tetap ingatkan kewajibannya. Untuk hal-hal yang memang harus dilakukan anak, jangan biarkan dia bebas dan ingatkan terus. Semisal tugas membereskan mainan atau menggosok gigi, katakan dengan nada tegas namun tidak berteriak.
Gunakan psikologi terbalik. Ketika anak menolak mandi, Anda bisa bilang begini, ”Oh, kamu tidak mau mandi. Okey, tidak apa-apa. Biar saja nanti badannya bau dan digigiti nyamuk.” Dengan psikologi terbalik, anak akan berpikir bahwa Anda tidak peduli terhadap reaksinya. Itu akan memancing ia berbuat sebaliknya untuk mendapat respon Anda.
Menyuruh dalam nada meminta, misalnya, ”Boleh ibu minta buku kamu?” lebih baik untuk  ego anak daripada nada memerintah seperti “Ayo, bawa sini bukunya!”
Terangkan dengan spesifik apa yang Anda ingin anak lakukan.  Misalnya, katakan “Yuk, taruh bonekamu di dalam kotaknya,” daripada “Ayo, kembalikan mainannya!”
Ajarkan anak kata-kata  untuk mengekspresikan perasaan. Terkadang anak memberondong  Anda dengan kata "tidak"  hanya untuk menunjukkan perasaan tidak senang, protes, atau  marah pada sesuatu. Coba cek dengan bertanya padanya, ”Kamu lagi marah, ya? Apa yang membuat kamu marah? Coba bilang sama Bunda." Lalu, dengarkan perkataan anak sambil membantunya memilih kata-kata.
Lupakan sifat bossy Anda. Tidak ada orang yang senang diperintah, bukan? Karena itu, wajar jika anak  menolak duduk di car seat karena nada perintah Anda seperti diktator: "Duduk di kursimu!". Lebih efektif bila menyampaikan instruksi secara bersahabat, namun jelaskan konsekuensi bila anak melanggar, misalnya, “Okey, kita sudah duduk di mobil. Tapi kamu harus  duduk di kursimu, supaya kalau ibu merem mendadak, kamu tidak mental".  Jangan lupa, nada suara juga penting. Tidak perlu berteriak atau membentak.
Angie T.Cranor, Ph.D, asisten professor dari jurusan perkembangan di universitas North Carolina di Greensboro, AS, mengatakan, daripada melarang anak untuk melakukan sesuatu,  lebih baik minta dia melakukan sesuatu. Kalimat seperti “Jangan berguling di lantai dengan baju barumu” dapat memancing argumentasi. Lebih baik katakan,  “Coba kamu duduk di kursi, supaya baju baru kamu tidak kotor.”  
Mengalihkan perhatian ketimbang melarang. Suatu hari, Alya bermain-main dengan gelas minumannya. Berkali-kali ia memasukkan kue, permen dan lainnya, ke dalam gelas. Dua puluh kali bundanya mengatakan ‘jangan’, tidak mempan. Akhirnya, bunda Alya menyadari bahwa kata ‘jangan’ tidak bisa digunakan untuk membuat Alya menghentikan tindakan impulsifnya. Ia pun mengalihkan perhatian Alya dengan melakukan aktivitas yang mirip, seperti memberi makan ikan di akurium atau bermain dengan bebek-bebek plastik di bak mandi. Berhasil!
Cari kata spesifik selain “jangan”,  untuk mencegah aktifitas yang membahayakan anak. Misalnya, ketika dia bermain-main dengan tempat sampah, reaksi Anda mungkin mengatakan “Jangan!”.  Cobalah memilih kata lain yang lebih efektif, misalnya, “Hi, jijik! Main kotak sampah bisa membuatmu sakit.”  Katakan dengan ekspresi yang mendukung.
Berikan kata positif dengan kata awal yang mengandung konotasi negatif. Misalnya, “Kamu tidak boleh main pisau, tapi kamu boleh main bola.” Atau “Kamu tidak boleh menyeberang jalan sendiri tapi kamu boleh menemani Mama menyeberang jalan.” Gunakan ekspresi meyakinkan untuk menekankan bahwa ia boleh melakukan sesuatu  tetapi dalam cara yang positif. Ini adalah cara kreatif dalam memberi anak pilihan tanpa melarangnya terus-menerus.  


Teknologi Perlu Bagi Anak, Tapi Jangan Kecanduan


Mengenalkan teknologi kepada anak memang bisa dilakukan pada usia dini. Karena secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh positif bagi anak. Tapi jangan sampai keterusan sehingga anak lupa waktu untuk aktivitas lain yang lebih berguna bagi tumbuh kembangnya.

Produk yang bisa membuat anak kecanduan teknologi sehingga lupa waktu, diantaranya:

Televisi. Salah satu kesalahan orang tua adalah membebaskan anak untuk melihat televisi kapanpun dan menyerahkan semuanya ke babysitter. Anda sebaiknya menyiapkan aktivitas yang menarik untuk balita Anda seperti permainan balok, aneka boneka (untuk perempuan) atau mobil-mobilan unik untuk anak laki-laki, atau permainan lainnya. Tujuannya agar balita Anda sibuk dan tidak terus terpaku pada acara televisi yang belum tentu berefek positif dengan usianya. Usahakan pula selalu menemani anak saat mereka nonton televisi agar mampu menyeleksi acara mana saja yang boleh ditonton dan tidak.

Komputer. Seperti halnya televisi, komputer kini bukan lagi barang aneh di setiap rumah dan bagi balita sekalipun. Tempatkan komputer di ruang keluarga sehingga dengan mudah Anda mengawasi apa saja yang dilakukan anak saat menggunakan komputer. Jika memungkinkan, sediakan komputer khusus untuk anak Anda dan didalamnya hanya diinstal program yang mendukung positif perkembangan anak.

Video game. Saat ini banyak variasi game yang kerap dijadikan rengekan anak-anak saat minta hadiah. Seperti Playstation, Nintendo, Xbox, Wii atau perangkat game lainnya yang kerap membuat anak lupa waktu. Anda bisa melarang sama sekali permainan video game tersebut. Atau Anda bisa membolehkan dengan aturan yang jelas, semisal maksimal hanya 1 jam sekali per hari. Cermati pula game-game yang dimainkan dan hanya sediakan game yang memang dibuat untuk anak-anak.

Kecanduankah Anak Anda?. Anak Anda bisa dikatakan kecanduan perangkat teknologi jika mereka:
- Melupakan waktu makan, waktu tidur terganggu atau bergeser dan malas masuk sekolah / prasekolah
- Hanya senang saat di depan komputer, TV atau video game, dan perilaku kurang baik saat anak Anda berhenti bermain
- Lebih tertarik dengan video game ketimbang bermain dengan teman
- Berbohong agar bisa main game
- Bisa memicu kegemukan karena badan anak kurang bergerak
- Mata memerah karena terlalu lama di depan layar komputer atau televisi

Jumat, 30 Desember 2011

Ketika Balita Dehidrasi

Ketika balita mengalami dehidrasi, apa yang harus dilakukan? Berikut cara tepat atasi dehidrasi. Umumnya, balita mengalami dehidrasi karena kurang minum atau kurang banyak cairan yang dimasukkan ke dalam tubuh mungilnya. Bisa jadi, ini akibat balita terlalu asyik bermain sehingga lupa untuk minum.

Penyebab lain. Ada sebab lain yang memicu dehidrasi pada anak, seperti:
  • Flu atau pilek. Dehidrasi bisa terjadi pada saat balita sedang sakit flu atau pilek. Walaupun tidak muntah dan tidak sering pipis, dia akan tetap merasa lemas seperti orang kelaparan dan kehausan. Biasanya, hal ini terjadi karena dia menolak untuk makan atau minum. 
  • Kelelahan, sekalipun tidak terlalu banyak beraktivitas dan cukup istirahat. Ini terjadi akibat banyaknya keringat atau energi yang keluar. 
  • Terinfeksi virus penyebab muntah dan diare. Walaupun balita tidak bolak-balik pipis, cukup tidur, dan tidak kelelahan bermain, dia bisa saja mengalami dehidrasi akibat muntah-muntah dan diare yang dialaminya.
Ganti segera cairan yang hilang. Tindakan utama yang harus Anda lakukan untuk mengatasi balita yang mengalami dehidrasi adalah sesegera mungkin mengganti cairan tubuhnya yang banyak keluar. Caranya:
Beri balita minum yang sebanyak-banyaknya.
Cairan yang Anda berikan dapat berupa air putih biasa, jus buah, es krim, atau bentuk cairan lainnya. Yang penting, berikan jenis cairan yang sesuai dengan kondisi kesehatan tubuhnya. Misalnya, kalau ia sedang pilek, jangan berikan es krim.
Kapan ia harus dibawa ke dokter? Bila balita diare dan muntah-muntah.Jika ia mengalami diare dan tetap memuntahkan cairan yang Anda berikan,maka tubuhnya akan tetap mengalami dehidrasi. Keadaan ini jelas tidakboleh dibiarkan berlarut-larut. Biasanya, dokter akan menggantikancairan tubuh balita via infus.

Mencegah memang selalu lebih baik dari mengobati. Seperti pada kasus dehidrasi (kekurangan cairan) pada balita yang bisa menyebabkan gangguan kesehatannya.

Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghindari terjadinya dehidrasi pada balita Anda.
  • Biasakan balita untuk minum secara teratur setiap hari, terutama bila dia banyak beraktivitas. Cairan yang dikonsumsi sebaiknya diatur agar bervariasi
  • Anak harus minum air paling tidak 8 gelas sehari. Anda dapat memberinya dalam bentuk kombinasi aneka jenis cairan, seperti jus buah, buah segar, sup, dan lain-lain.
  • Berilah minuman sebelum balita Anda mulai beraktivitas, seperti bermain di halaman.
  • Tetaplah beri minuman pada balita, sekalipun dia tidak begitu haus.



Rabu, 14 Desember 2011

Anak Berkeringat Banyak, Normalkah?

Berkeringat merupakan mekanisme tubuh untuk mengatur suhu tubuh. Keringat itu sendiri diproduksi oleh kelenjar keringat yang ada dalam tubuh. Jadi, si kecil berkeringat adalah hal normal.

Yang perlu Mama tahu, keluarnya keringat bisa dipengaruhi genetik. Ada orang yang memang produksi keringatnya sangat banyak, namun ada pula yang produksinya biasa-biasa saja. Selain itu, produksi keringat bisa pula dipicu oleh banyak hal, seperti stres, sedang mengalami penyakit infeksi dan demam, cuaca yang panas, serta udara yang lembab.

Bila anak Anda sehat, aktif, berat dan panjang badannya naik secara proporsional, dan perkembangannya cukup, seharusnya kondisi tubuhnya termasuk normal dan tidak ada yang perlu Anda khawatirkan.

Jadi? Anda tidak perlu ke dokter khusus. Seiring dengan bertambahnya usia, masalah berkeringat banyak ini akan mereda pada sebagian anak. Meski begitu, ada juga sebagian kecil anak yang tetap banyak berkeringat setelah dewasa.

Yang pasti, kondisi ini tidak akan mempengaruhi kualitas hidup si kecil di masa mendatang. Sebaiknya, Anda selalu menjaga agar pori-porinya tidak tertutup (misalnya, jangan menggunakan bedak) serta keringat harus sering-sering diseka (agar cepat kering). Catatan: Pori-pori yang tertutup akan memicu biang keringat alias heat rash.

Mengapa Asam Folat Penting untuk Ibu Hamil

Begitu hamil anak kedua, Shinta, mama dari Mabel (2), langsung menyusun menu sehat kaya asam folat untuk dirinya. Sumber terbaik asam folat antara lain, sayuran berdaun hijau gelap, kacang polong, susu, dan jus jeruk.

Mama satu ini memahami betul kalau nutrisi ini sangat penting dalam pembentukan otak dan saraf calon bayinya. Selain mempengaruhi kecerdasan si kecil kelak, ternyata ada beberapa manfaat lain, yakni:

- Membantu membentuk sel-sel darah merah normal pada mama.

- Melakukan proses produksi DNA pada janin, sehingga tumbuh kembangnya optimal.

- Mengurangi risiko terjadinya preeklampsia, yaitu gangguan kesehatan yang bisa mempengaruhi kesehatan mama dan bayinya.

Begitu pentingnya peran asam folat, sehingga dokter pun kerap menyertakan suplemen ini ke dalam resep bersama dengan vitamin lainnya. Agar kebutuhan asam folat tercukupi, selain mengonsumsi menu sehat, Anda pun sebaiknya tidak absen mengonsumsi suplemen yang diberikan oleh dokter. Anda juga boleh menambah asupan asam folat dari susu khusus ibu hamil.

Sabtu, 10 Desember 2011

Zat Gizi, Makanan, dan Aktivitas Penunjang Kecerdasan Otak

Selama proses perkembangan otak berlangsung, setiap menit terbentuk 250.000 sel saraf (neuron) baru. Pada umur 2 tahun, ukuran otak anak sudah mencapai 80% ukuran otak orang dewasa. Upaya untuk mmebantu perkembangan otak dan kecerdasan balita, antar lain dengan memneuhi zat-zat gizi yang dibutuhkan otak secara tepat.

Dalam buku “Brain Food for Kids,” Nicole Graimes menyebutkan jenis-jenis zat gizi penujjang perkembangan otak dan kecerdasan anak adalah:
  • Karbohidrat, dalam bentuk gula sederhana dan gula kompleks, dibuthkan sebagai sumber energi untuk membentu sel-sel otak baru.
  • Protein, baik hewani maupun nabati, terdiri daru 25 jenis asam amino yang berperan penting bagi terbentuknya neutrotransmitter, yaitu senyawa pengantar pesan dari sel otak satu ke sel otak yang lain.
  • Lemak, terutama dalam bentuk asam lemak, sebagai bahan baku pembentuk sel-sel otak baru. Sebanyak 60% dari otak terbentuk dari lemak. Jenis asam lemak yang paling utama adalah asam lemak tidak jenuh rantai panjang, contohnya omega-3, EPA, dan DHA. Asam lemak omega-3 ini paling banyak ditemukan dalam ikan laut, seperti ikan kod.
  • Vitamin dan mineral, sangat dibutuhkan untuk membantu fungsi kerj aotak, menunjang kerja sistem imun dan sistem saraf pusat.
  • Vitamin A. Meningkatkan daya tahan tubuh.
  • Vitamin D. Menjaga kesehatan tulang dan gigi.
  • DHA 224 mg/5 ml. Membantu perkembangan sel-sel otak.
Selain “makanan rohani” berupa rangsangan yang mencerdaskan, otak anak juga butuh “makanan jasmani” berupa brain food, yang diyakini mampu merangsang pertumbuhan sel-sel otak, meningkatkan daya ingat dan konsentrasi berpikir.
  1. Kuning telur kaya kandungan choline, suatu zat yang membantu perkembangan daya ingat.
  2. Ikan Salmon adalah sumber asam lemak omega-3, DHA dan EPA, yang sangat penting untuk pertumbuhan dan fungsi otak.
  3. Selai kacang banyak mengandung asam lemak omega 3.
  4. Daging sapi tanpa lemak kaya akan mineral seng yang membantu memelihara daya ingat. Ditambah kandungan zat besi yang mampu membuat anak tetap berenergi dan berkonsentrasi.
  5. Stroberi, blueberry, ceri, atau blackberry kaya asam lemak omega-3, selain tinggi vitamin C.
Ingin anak cerdas? Perhatikan dengan jeli gizi mereka setiap hari. Makanan yang populer disebut "Brain Food" ini dipercaya mampu merangsang pertumbuhan sel otak, memperbaiki fungsinya, meningkatkan daya ingat, dan konsentrasi berpikir anak.
  1. Ikan dan Kerang. Ini adalah sumber terbaik asam omega-3 (DHA dan EPA) yang penting bagi tumbuh kembang fungsi otak. DHA dan EPA banyak terkandung dalam ikan yang hidup di laut dalam seperti Salmon, Tuna, Sardine, Makarel, Tengiri, dan Kembung, sedangkan Tawes adalah satu contoh ikan air tawar yang kaya DHA dan EPA.
  2. Telur. Dikenal sebagai sumber protein dengan harga terjangkau, bagian kuning telur yang kaya kandungan lecithin dianggap penting sebagai makanan otak untuk membantu perkembangan memori dan daya ingat.
  3. Daging Sapi, kaya akan zat besi yang penting untuk membuat anak tetap berenergi dan berkonsentrasi. Daging sapi juga mengandung mineral seng yang memelihara daya ingat.
  4. Daging Ayam, dipercaya dan dapat diandalkan sebagai sumber asam amino yang dibutuhkan tubuh.
  5. Gandum Murni, mampu mensuplai kebutuhan glukosa yang dibutuhkan tubuh secara konstan. Vitamin B yang terkandung didalamnya penting untuk memelihara kesehatan sistem saraf.
  6. Oatmeal. Sereal populer ini merupakan sumber vitamin E, B, potasium dan seng yang membuat tubuh dan otak berfungsi pada kapasitas penuh.
  7. Beras merah, berfungsi meningkatkan jumlah serotonin, senyawa utnuk memperbaiki suasana hati dan menenangkan otak.
  8. Berry, apapun jenisnya mengandung vitamin C dan antioksidan kadar tinggi untuk melindungi otak dari kerusakan akibat radikal bebas.
  9. Kacang-kacangan. Makanan spesial ini kaya akan serat, vitamin B kompleks, zat besi, dan magnesium yang penting untuk tingkatkan daya ingat dan kesehatan sistem saraf anak.
  10. Buah dan sayuran berwarna, terbukti kaya vitamin dan mineral yang menjadikan otak tetap bertenaga dan antioksidan yang tangguh untuk memperbaiki sel otak.
  11. Susu dan Yogurt, makanan yang berasal dari produk susu jelas penting bagi pertumbuhan jaringan otak, neurotransmitter, dan enzim. Kandungan vitamin D didalamnya penting untuk membangun sistem saraf otot dan regenerasi sel manusia secara keseluruhan.
  12. Keju, kandungan gizi yang ada pada keju bisa mendongkrak nilai gizi bahan pangan lainnya.
Ajarkan anak untuk makan makanan bergizi setiap hari, agar tumbuh kembangnya optimal dan tidak mudah sakit.
Otak manusia itu unik. Semakin banyak digunakan untuk berpikir, semakin banyak terbentuk sambungan-sambungan baru di dalamnya yang semakin lama semakin menguat. Saat anak berpikir (baca: menggunakan otaknya), terjadi banyak hal di dalam kepalanya:
  • Zat kimia dari dalam tubuh lebih cepat masuk ke dalam otak, karena setiap rangsangan belajar meningkatkan terjadinya komunikasi antarsel.
  • Volume otak berkembang lebih cepat, karena sering digunakan. Misalnya bila normalnya proses perkembangan memerlukan waktu satu bulan, tetapi karena sering dipakai bisa juga berkembang dalam beberapa hari, jam bahkan menit. Ahli syaraf menyebutnya workability. Selama otak diberi rangsangan (bahasa baru, keterampilan baru, atau bahkan hanya mengenali wajah baru), perkembangannya berlangsung cepat.
  • Prefrontal cortex yang bertugas sebagai working memory (daya ingat), bekerja. Daya ingat bersifat permanen. Tugasnya mewaspadai sesuatu, memutuskan, mengingat, menceritakan kembali, mengkoordinasi, menghilangkan faktor-faktor pengganggu dan berkonsentrasi. Perkembangan daya ingat bertahap dimulai sejak lahir dan mencapai puncak di usia remaja. Akibat perkembangan yang bertahap itulah, anak prasekolah cepat lupa berhitung dan belum bisa mengingat sesuatu dengan baik sehingga harus dibantu dan diingatkan.
Berpikir Cepat Berkat Senam Otak. Profesor Walter Perrtig dari Universitas Bern, Swiss, mengatakan, untuk membantu daya ingat selama ini kita menggunakan teknik mnemonic (bantuan). Dengan teknik ini kita mengubah sesuatu menjadi kode agar mudah diingat. Misalnya, angka 11 dihubungkan dengan jumlah pemain bola, angka 13 dikaitkan dengan musibah. “Meskipun teknik bantuan efektif ketika kita harus memerhatikan deretan benda atau daftar belanja, tetapi dalam jangka panjang tidak membantu manusia meningkatkan inteligensi,” ujar Walter.


Terobosan berikutnya untuk meningkatkan daya ingat adalah senam otak, yang konon dapat menaikkan IQ hingga 10% dengan efeknya terjadi dengan cepat. Ditemukan Dr. Siegfried Lehr, seorang ahli psikologi, senam otak didukung sejumlah penelitian di Universitas Bern. "Senam otak sangat baik untuk anak-anak, terutama bila dilakukan saat konsentrasi mereka sedang turun. Lakukan 5 menit, susudahnya konsentrasi anak akan terbit kembali sehingga berguna untuk proses belajar selanjutnya", ujar Siegfried.

Deteksi Dini Anak Autisme

Untuk mendiagnosis apakah seorang anak menderita Autism Spectrum Disorders (ASDs) memang bukan pekerjaan mudah. Sampai sekarang, belum ada tes tertentu – tes darah, misalnya -- yang bisa memastikan.

Deteksi dini lewat observasi umumnya bisa dilakukan di usia 18 bulan atau bahkan lebih muda lagi. Tapi, diagnosis yang dilakukan oleh seorang profesional di usia anak sekitar 2 tahun sebetulnya sudah bisa memberikan hasil meyakinkan.

Sayangnya, banyak anak tidak memperoleh diagnosis final itu sampai mereka sudah terlalu besar. Akibatnya, anak melewatkan usia keemasan (golden ages)-nya, yaitu usia terbaik sebelum anak mencapai 5 tahun, untuk mendapatkan pertolongan/terapi yang dibutuhkan. Padahal, bila terapi diberikan pada masa-masa ini, peluang bagi anak untuk mencapai kemajuan berarti bisa lebih besar.

Berikut dua tahap yang perlu ditempuh untuk mendiagnosis apakah seorang anak menyandang ASDs atau tidak.

1. Pemeriksaan tumbuh kembang anak (developmental screening), tes singkat untuk mengetahui apakah anak sudah bisa menguasai kemampuan dasar sesuai usianya atau mengalami keterlambatan. Dokter

biasanya akan menanyai orangtua dan mengajak anak bermain untuk mengevaluasi apa yang telah dikuasai anak, termasuk gerakan, perilaku dan kemampuan bicaranya. Setiap keterlambatan bisa menjadi sinyal adanya masalah. Perhatian khusus perlu diberikan bila anak lahir dengan berat badan kurang, tidak cukup umur, atau memiliki kakak atau adik yang merupakan penyandang ASD. Bila melihat adanya sinyal masalah, dokter akan menyarankan evaluasi lebih lanjut untuk dapat memastikan.

2. Evaluasi komprehensif. Langkah selanjutnya adalah pemeriksaan lebih teliti mengenai perilaku anak. Ini bisa termasuk pemeriksaan penglihatan dan pendengaran, tes genetik, tes syaraf, dan berbagai tes medis lainnya.

Biasanya, bila pemeriksaan awal dilakukan oleh dokter anak, Anda akan dirujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter spesialis syaraf, ahli tumbuh kembang anak, psikolog anak, atau psikiater.

Meski sampai saat ini belum ada obat untuk penderita ASDs, intervensi awal bisa meningkatkan perkembangan anak secara signifikan. Terapi biasanya meliputi upaya untuk membantu anak belajar bicara, berjalan, dan berinteraksi dengan orang lain. Jadi, jangan tunda untuk segera membawa si kecil ke ahlinya bila Anda curiga ia mengalami keterlambatan atau masalah perkembangan lainnya.

Latih Anak Disiplin, Mudah, kok!

Hindari pemikiran bahwa anak masih terlalu kecil mengenal disiplin. Disiplin perlu, lho, diterapkan sejak usia dini. Mulai usia 1-2 tahun atau biasa disebut dengan masa toddler, anak butuh batasan dan lingkungan yang jelas strukturnya.

Di usia 1-2 tahun anak sedang ingin mencoba sejauh mana ia bisa menguasai, mengatur atau memanipulasi lingkungan sekitarnya. Jika tidak ada batasan, anak akan belajar melepas keinginan sesuka hati. Jadi percayalah bahwa batasan atau aturan itu perlu, bahkan sejak dini.

Anak perlu tahu, ada batasan yang tidak boleh ia lewati, ada aturan yang harus ia ikuti. Ini juga nanti akan berdampak ketika anak mulai memasuki lingkungan sekolah. Dengan adanya aturan, anak juga akan merasakan adanya kepastian, dan ini akan memberikan rasa aman dan nyaman. Selain penerapan aturan konsisten, tentu diperlukan juga langkah-langkah disiplin lainnya yang pas untuk anak seusia ini. Berikut di antaranya:

- Time-out, prinsipnya adalah menghentikan atau mengeluarkan anak dari aktivitasnya karena perilaku kurang baik yang ia lakukan. Mengingat anak balita cenderung sulit diam, untuk kelancaran time-out Anda perlu menghentikan aktivitas Anda sendiri untuk menemani anak di sudut time-out selama waktu ditentukan.

Berapa lama? Waktu yang dianjurkan adalah satu menit untuk setiap tahun usia anak, misalnya 2 tahun, ya, 2 menit. Anak perlu merasakan time-out ini dengan diam di sudut dan tidak melakukan apa-apa. Temani anak dengan memunggunginya agar anak tidak merasa justru Anda menemani dan mengajaknya bermain. Lakukan ini secara konsisten dan anak pun akan mengerti konsep time-out ini.

Jangan lupa lakukan segera setelah perilaku negatif anak muncul. Anda juga bisa melakukan sebaliknya, misalnya anak membanting mainan sehingga rusak, Anda bisa memberikan time-out pada mainan tersebut artinya anak tidak boleh memainkan mainan tersebut selama waktu yang ditentukan.

- Pengalihan perhatian. Untuk anak yang masih sangat belia, terkadang lebih mudah menghentikan perilaku negatifnya dengan cara mengalihkan perhatiannya pada hal lain. Misalnya, ketika anak ingin memegang barang elektronik yang dikhawatirkan akan berbahaya, alihkan perhatian anak ke hal lain seperti mainan favoritnya. Anda juga bisa membawa anak berjalan keluar sehingga ia lupa akan tujuan awalnya.

- Mengabaikan perilaku tantrum. Ini terkadang agak sulit dilakukan para orangtua mengingat tantrum pasti hadir dalam bentuk emosional sehingga orangtua juga bisa ikut terpancing emosinya. Kendati sulit, anak perlu belajar bahwa dia tidak bisa mendapatkan keinginan dengan cara tantrum.

- Memberikan ketegasan positif pada anak. Cara ini seringkali lebih efektif daripada memberikan hukuman terhadap perilaku negatif anak. Anak Anda sebenarnya sedang berusaha 'mendata' mana saja dari perilakunya yang mendapatkan perhatian dari Anda. Oleh karena itu, berikan perhatian berupa pujian ketika anak melakukan sesuatu positif, maka kelak perilaku ini juga akan cenderung diulang anak karena dia tahu Anda akan memberikan perhatian padanya.

Jumat, 09 Desember 2011

Agar Balita Semangat Gosok Gigi

Ciptakan suasana yang menyenangkan saat mengajak balita gosok gigi dengan menggunakan cara-cara yang kreatif. Balita pun lebih semangat menggosok giginya.
  1. Libatkan dan ajak balita saat membeli serta memilih peralatan gosok gigi yang akan dipakainya. Mulai dari sikat gigi, pasta gigi, penutup kepala asikat, gelas plastik untuk kumur dan tempat menyimpan sikat gigi.
  2. Sediakan jam pasir berbentuk lucu untuk menghitung lamanya balita gosok gigi. Umumnya, cukup 2 menit.
  3. Dampingi balita gosok gigi, sambil melakukan hal-hal yang disukai balita agar tercipta suasana yang menyenangkan selama gosok gigi. Misalnya, menyanyikan lagu yang disukainya, bercerita tentang sosok kartun yang rajin gosok gigi sehingga bila tersenyum membuat semua temannya senang.
  4. Sambil mengajarkan balita gosok gigi, jelaskan manfaat gosok gigi terhadap kesehatannya sampai dia besar nanti, serta jenis-jenis makanan yang membantu pertumbuhan serta menguatkan giginya. Misalnya, minum susu bukan hanya menyehatkan tubuhnya tapi juga membuat gigi dan tulangnya jadi kuat.
  5. Sesekali gunakan sikat gigi elektrik sebagai selingan agar kegiatan gosok gigi bervariasi dan menyenangkan.

Sabtu, 26 November 2011

Tip Pilih Taman Bermain

Mulai pilih-pilih Taman Bermain yang oke untuk si Batita? Jangan sembarangan memilih Taman Bermain lho. Pilih yang benar-benar sesuai dengan minat dan berkualitas bagus. Berikut Ayahbunda berikan tip-tip memilih Taman Bermain  atau playgroup untuk si Batita.
  • Pilih sekolah yang memiliki program sesuai usia anak.
  • Perhatikan durasi atau lamanya aktivitas di Taman Bermain. Durasi yang terlalu panjang bisa membuat si kecil cepat lelah atau bosan. Pertimbangkan juga kapan dia harus beristirahat.  
  • Perhatikan waktu (hari dan waktu) kapan si kecil harus 'bersekolah'. Anda juga perlu mempertimbangkannya dengan waktu tidur siang dan jam-jam kapan si kecil sedang aktif-aktifnya.
  • Perhatikan lokasi sekolah. Lokasi sekolah sebaiknya tidak terlalu jauh, agar anak tidak bosan dan lelah di perjalanan.
  • Cermati fasilitas dan kondisi tempat bermain, keamanan dan kenyamanan lingkungan sekolah, dan kesehatan guru.
  • Tak ada salahnya ikut free trial di sekolah tersebut.
  • Perhatikan reaksi anak. Apakah ia senang? Nyaman? Sesuai minat atau justru tertekan dan tidak senang?

Si Batita masih dalam tahap proses pengembangan motorik, emosi, dan sosialnya. Itu sebabnya pemilihan Taman Bermain untuknya harus benar-benar dicermati agar sesuai dengan perkembangannya. Bahkan jika memungkinkan, dampingilah si kecil di sekolah.

Menepis Mimisan

Banyak cara menghentikan keluarnya darah dari hidung si kecil. Lakukan sesuai usianya, karena cara mengatasi mimisan antara bayi dan balita berbeda. Simak cara mengatasinya.

Darah yang mengalir dari cuping hidung balita ini terjadi karena ada pembuluh darah balik kecil di hidung, bisa depan atau belakang, yang “pecah” atau robek. Kondisi ini biasanya akibat:
  • Terkena kuku saat balita membersihkan atau mengorek hidung  dengan jari.
  • Menghembuskan napas atau membuang ingus terlalu kuat.
  • Hidung terbentur sesuatu yang keras saat bermain atau terjatuh.
  • Kelelahan akibat keasyikan bermain.
  • Demam tinggi.
Mengatasi mimisan pada bayi: 
  • Posisikan tubuhnya dalam keadaan duduk tegak, agak condong ke depan. Jangan membaringkan tubuhnya, karena kalau darah tertelan, balita akan mual atau bahkan muntah.
  • Tekanlah bagian bawah (cuping) hidung dengan jempol dan jari tengah Anda. Upayakan menekan dengan lembut, tapi cukup kuat dan tidak berubah-ubah posisi.
  • Bujuk balita yang mungkin akan berupaya melepaskan jepitan jari Anda dari hidungnya, dan ajarkan cara bernapas lewat mulut.
  • Lakukan penekanan ini selama 5 menit. Kalau mimisan belum berhenti, tekan lagi sampai 10 menit. Gunakan arloji atau pengukur waktu lainnya, agar lamanya waktu menekan hidung balita tepat 10 menit.
  • Bila setelah 30 menit mimisan masih berlangsung, segera ke klinik atau rumah sakit terdekat.
Mengatasi mimisan pada balita:
  • Minta balita duduk tegak, agak condong ke depan, sehingga aliran darah menjadi lebih lambat. Jangan membaringkan tubuhnya.
  • Minta balita bernapas lewat mulut.
  • Tekan cuping hidungnya dengan langkah-langkah yang sama seperti mengatasi mimisan pada bayi. Jika mungkin, ajarkan balita cara menekan kedua lubang hidungnya dengan menggunakan jari tangannya sendiri.
  • Saat balita menekan hidungnya sendiri, atau dengan bantuan Anda, alihkan perhatiannya dengan membacakan buku cerita, menonton TV, atau memutar film anak-anak.
  • Biasanya mimisan akan berhenti setelah  5–10 menit. 
  • Setelah mimisan berhenti, minta balita untuk tidak bermain “kasar” dulu, seperti lompat-lompat atau berlari, selama beberapa jam. Tujuannya, memberi waktu agar mimisannya benar-benar berhenti.
  • Katakan pada balita agar tidak menggunakan jarinya untuk membersihkan hidungnya, menghembuskan napas dengan keras, dan menggaruk lubang hidungnya selama beberapa hari.
  • Kalau setelah 30 menit mimisan belum juga berhenti, segera bawa anak ke dokter.

Rabu, 23 November 2011

Nutrisi Seimbang Penting Untuk Kecerdasan!

Nutrisi seimbang penting untuk meningkatkan dan “memelihara” kecerdasan otak. Karena bila status gizi anak kurang atau buruk, daya tahan tubuh turun dan mudah sakit. Akhirnya mempengaruhi kinerja otak.

Otak cerdas dimiliki oleh anak yang sehat. Dan untuk menyiapkan anak cerdas harus disiapkan sejak dalam kandungan. Pertumbuhan optimal otak adalah 2 tahun pertama, sehingga penting untuk memperoleh ukuran besar otak yang optimal. Salah satunya dengan mengonsumsi makanan sehat.

Makanan sehat adalah yang mengandung nutrisi seimbang. Nutrisi seimbang adalah nutrisi yang mengandung semua zat gizi yang diperlukan anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Berisi berbagai bahan makanan dengan komposisi seimbang, yakni karbohidrat (55-60%), lemak (20-30%), dan  protein (hewani dan nabati: 15-25%).

Banyak penelitian membuktikan pentingnya nutrisi untuk peningkatan maupun “memelihara” kecerdasan otak. Seperti yang diungkapkan oleh Dr.Tinuk Agung Meilany, SpA, Ahli Nutrisi dan Penyakit Metabolik Anak, RS Anak dan Bunda Harapan Kita Jakarta, saat hadir sebagai pembicara dalam Smart Parent Conference Optimizing the Golden Years bersama Ayahbunda dan Frisian Flag di Yogyakarta, Sabtu-Minggu (17-18/7). Tinuk mengatakan apabila status gizinya baik, tubuh anak akan lebih sehat. Dia bisa belajar, tumbuh dan berkembang lebih cerdas. “Rumus ini berlaku sebaliknya bila anak memiliki status gizi kurang atau buruk sehingga anak menjadi tidak sehat, daya tahan tubuh turun dan mudah sakit, dan pada akhirnya anak tidak bisa belajar atau bertambah pandai,” lanjutnya.

Menurut Tinuk, nutrisi seimbang harus diperoleh anak setiap hari, berkesinambungan dan terus-menerus untuk memenuhi kebutuhan tubuh untuk tumbuh dan berkembang. Pola makan yang lengkap untuk anak adalah 3 kali makan lengkap (nasi, lauk pauk hewani dan nabati, sayur), 2 kali makanan selingan berupa buah dan kue serta minuman, dan 2 - 3 kali minum susu.

Tinuk menambahkan, jumlah kalori yang diberikan pada anak harus disesuaikan kebutuhan Berat Badan (BB) ideal.

Tips Memberi Permen Pada Balita

Rasa permen yang enak dan manis membuat balita ketagihan. Apalagi jika tidak ada aturan di rumah mengenai konsumsi permen. Permen tidak akan menjadi buruk, jika dikonsumsi dengan tepat secara moderat dan memilih permen yang bermutu baik. Berikut tip memberi permen pada balita:
Frekuensi.
  • Ciptakan hari makan permen satu bulan sekali. Atau, jadikan permen hadiah istimewa dengan frekuensi pemberian tidak sering. Jumlahnya maksimal 2 butir.
Pilih yang sehat.
  • Pewarnanya harus pewarna makanan.
  • Gula murni bukan buatan (misalnya, sakarin dan siklamat yang meninggalkan after taste getir di lidah).
  • Tidak berformarlin (seperti permen white rabbit, manisan asam Kiamboy, permen Anggur), tidak ber-kola atau berefek pop rock.
  • Gum di permen lunak terbuat dari getah tumbuhan, aman ditambahkan.
  • Permen jelly yang kenyal, bahannya bisa tepung konyaku atau gelatin. Tepung konyaku dari umbi-umbian, dari sisi kehalalan lebih aman dari gelatin. Permen berbahan serat dari jeli melancarkan pencernaan dan menurunkan kolesterol darah.
  • Permen cokelat baik dikonsumsi karen amngandung lemak, karbohidrat, protein, asam amino triptofan, fenilalanin, serta tyrosin.
Reputasi produsen.
  • Dikemas baik dan higienis, mencantumkan kandungan, kode produksi dan kadaluwarsa, dan izin Departemen kesehatan RI.
  • Hindari permen home industry yang asal-usulnya tidak jelas, misal, cotton.
  • Hindari permen yang pernah diberitakan berbahan berbahaya, seperti permen impor dari Cina.
Aman bagi balita.
  • Misal, loli bertangkai, permen kunyah atau chewy yang mudah dimakan.
  • Hindari permen keras isap (jika balita belum bisa mengontrol kemampuannya menelan supaya tidak tersedak), permen karet (bahaya tertelan), dan permen sangat pedas.
  • Jangan beri permen berbentuk rokok, karena studi di Unversity of Rochester, AS, menyebutkan merokok permen di masa kecil menyebabkan kebiasaan merokok saat dewasa. Diduga karena menguatkan persepsi merokok sebagai aktivitas pergaulan.
  • Ajarkan cara memakan permen yang benar. Permen isap jangan langsung digit tapi diemut hingga kecil, jangan keluar masuk mulut, jatuh harus dibuang, tidak gentian menghisap dengan orang lain.
  • Jangan makan permen sebelum makan, agar tidak merusak nafsu makan.
  • Jangan mengulun terlalu lama dapat mempengaruhi kesehatan gigi. Maksimal 30 menit.
  • Cuci mulut setelah makan permen dari sisa gula, minum atau kumr air putih. Sikat gigi akan lebih baik.
  • Puasa permen saat batuk.
  • Permen suplemen tidak bisa dimakan bebas, harus sesuai petunjuk.
  • Bila terlanjur hobi makan permen, atasi dengan beri camilan manis lain yang lebih sehat, jangan simpan permen di rumah, tolak permen sebagai uang kembalian supermarket, jangan pilih permen sebagai goody bag ulang tahun.
  • Edukasi balita untuk tidak menerima permen dari orang asing, atau selalu menunjukkan permen dari luar kepada Anda untuk dicek dulu.

Jumat, 18 November 2011

Aneka Kesalahan Saat Memberi Makan Bayi

M ungkin orang tua tak menganggapnya sebagai hal penting. Padahal, jika tahapan pemberian makan tak dijalankan secara benar, bisa membuat anak sakit.
  Saat baru lahir, bayi belum bisa makan karena ia baru belajar dan organ pencernaannya belum siap untuk mencerna makanan biasa. Karena itu, memberinya makanan harus melalui tahapan tertentu. Misal, 6 bulan pertama kehidupannya, ia hanya memperoleh nutrisi dari ASI.
"Baru setelah itu, ia diperkenalkan dengan makanan padat, dari bubur susu lalu makin lama makin meningkat sampai nasi setelah ia berusia setahun," kata dr. Budi Purnomo, Sp.A .
Toh, pada kenyataannya, masih banyak orang tua yang kurang paham akan hal tersebut meski sudah dijelaskan dokter. Yang diterapkan justru pola yang ada dalam keluarga dan sudah turun-temurun dilakukan. Padahal, risikonya tak sedikit jika bayi diberi makanan tanpa melalui tahapan yang seharusnya. Berikut sejumlah kesalahan yang sering dilakukan orang tua:
1. TERLALU CEPAT MEMBERI MAKANAN PADAT
Harusnya, baru di usia 4 (enam) bulan bayi mulai diberi makanan padat. Yang banyak terjadi, belum lagi umur 6 bulan, bayi sudah diberi makanan padat semisal pisang atau nasi. Padahal, "Bisa menyebabkan gangguan di usus. Misal, ususnya tersumbat atau melintir."
Budi menjelaskan, dinding dalam usus berisi jonjot-jonjot usus yang di dalamnya berisi enzim dengan fungsi mengolah makanan yang masuk ke dalam saluran usus. "Bayi usia 4 bulan biasanya masih sedikit enzimnya. Jonjotnya juga belum sempurna." Alhasil, makanan padat yang masuk tak diolah. "Cuma memberi rasa kenyang tapi tak diserap, karena enzim yang bertugas mencerna masih kurang."
Nah, kalau keadaannya parah, bisa terjadi perforasi alias kebocoran usus. Bahkan, bisa pecah karena makanan padat menumpuk dan tak bisa hancur di usus.
2. DIBERI SUSU MELULU
Yang juga banyak terjadi, anak hanya diberi susu karena tak mau makan. Padahal, menunda pemberian makanan padat jika memang sudah waktunya, tak baik bagi sistem pencernaan anak. Bisa bisa, jonjot-jonjot ususnya tak terangsang untuk berkembang.
Padahal, kalau kurang dirangsang, lapisan jonjot akan tetap tipis bahkan mungkin "gundul". "Masalahnya, lapisan jonjot-jonjot usus yang tipis ini akan mempengaruhi ketahanan anak. Kalau ususnya terkena infeksi, akan mudah habis dan makin terkikis."
Patut juga diingat, jika anak sudah besar hanya diberi susu, kecukupan gizinya tak akan terpenuhi dengan baik. Makin besar bayi, kebutuhan asupan makanannya juga makin besar, bukan?
3. SALAH MEMBERIKAN SUSU
Secara garis besar, susu formula dibagi dalam 2 jenis, yaitu susu formula pemula (starting formula)  dan lanjutan (follow-up formula) . Susu formula pemula sebenarnya hanya diberikan kepada anak-anak yang tak mendapat ASI. Bisa karena ASI tidak keluar atau sang ibu memiliki masalah lain. Namun yang terbaik tetaplah ASI.
Apa efeknya bila susu formula untuk anak di atas usia setahun diberikan pada bayi? Yang jelas, kandungannya berbeda. Umumnya berupa susu full cream  yang banyak mengandung laktosa. Sementara tubuh bayi baru menghasilkan enzim untuk mencerna laktosa mulai usia 4 bulan. Alhasil, susu tak tercerna dengan baik dan bisa membuat si kecil diare. Sebaliknya, kalau di atas usia setahun masih diberi susu pemula, asupan gizi jadi kurang karena susu pemula adalah susu formula yang diencerkan.
4. JALAN PINTAS VITAMIN
Orang tua pasti ingin memberi gizi terbaik bagi anaknya. Yang terjadi, sebagai jalan pintas, anak diberi aneka vitamin. Begitu juga kalau anak tak punya nafsu makan, dijejali macam-macam vitamin. Padahal, vitamin tak mutlak diberi jika makannya sudah cukup. "Kalau asupannya dirasa kurang, boleh-boleh saja dikasih vitamin," kata Budi.
Kendati boleh memberi vitamin sebagai penambah nafsu makan, "Tetap harus dicari penyebabnya, kenapa anak tak doyan makan. Jangan terus-terusan dikasih vitamin." Masalahnya, anak, apalagi bayi, sulit makan karena berbagai penyebab.
Bayi usia 6 bulan yang baru dikenalkan makanan padat, misal, tentu perlu waktu lama untuk beradaptasi. Belum lagi pencernaannya juga baru belajar mencerna makanan dan si bayi juga baru belajar mengunyah serta menelan. "Jadi, teliti dulu, benarkah ia tak nafsu makan atau karena ada masalah lain yang berhubungan dengan proses mencernanya. Misal, ia memang belum terampil menelan atau tak suka rasa makanannya."
Pemberian vitamin yang berlebihan memang tak memberi efek samping yang buruk. Toh, kelebihan itu akan dibuang secara otomatis jika tubuh sudah merasa kebutuhannya tercukupi. "Tapi tetap saja harus hati-hati. Soalnya, kebanyakan vitamin bisa membuat bayi diare," ingat Budi.
5. MEMAKAI BUMBU TAMBAHAN
Kalau jumlahnya tak terlalu banyak, masih bisa ditolerir asal tujuannya mengenalkan aneka rasa pada anak. Kaldu dan kecap juga boleh diberikan agar ia mengenal berbagai rasa. Tentunya setelah Si kecil usia 6-7 bulan, atau setelah ia boleh mengkonsumsi nasi tim.
6. PEMBERIAN TELUR MENTAH
Banyak orang tua meyakini, telur mentah bisa menambah daya tahan bayi. Padahal, justru berisiko, lo. Masalahnya, kita tak tahu persis, seberapa bersih telur. Jangan-jangan malah sudah terkontaminasi banyak kuman. "Untuk bayi dan anak, sebaiknya rebus telur sebelum diberikan. Daya tahan anak kecil masih rentan untuk melawan kuman," ungkap Budi.
7. MENU TAK SEIMBANG
Ini juga amat sering terjadi. Mentang-mentang anak suka bubur, orang tua memberinya terus-menerus tanpa variasi. Padahal, seperti dijelaskan Budi, antara karbohidrat, lemak, protein, buah, dan sayuran harus diberikan secara seimbang. Variasi makanan juga penting agar si kecil mengenal berbagai rasa dan tekstur makanan.
8. TAK BERSIH
Masalah yang satu ini juga sering dianggap enteng. Padahal, daya tahan tubuh bayi/anak masih rentan. Mereka perlu makanan dan alat makan yang bersih/steril agar tubuhnya tak kemasukan kuman penyakit. Gara-gara kebersihan tak terjaga, gangguan saluran cerna anak jadi terganggu. Diare, misal.
Tahapan Yang Benar
"Sejak lahir hingga bisa makan layaknya anak besar, bayi perlu melalui beberapa tahapan. Melalui tahapan-tahapan itulah bayi belajar mengunyah, menelan, dan mencerna makanan dengan baik," jelas Bud i. Berikut garis besar tahapannya:
*Baru Lahir
Berikan ASI pada bayi sedini mungkin (begitu ia lahir). Waktu dan lama menyusui disesuaikan kondisi serta kebutuhan bayi. Ingat, ASI adalah makanan terbaik bagi anak.
Agar pemberian ASI memberi hasil maksimal, perlu"manajemen laktasi" yang dilakukan sejak kehamilan, saat melahirkan, dan sesudah melahirkan. Manajemen ini meliputi persiapan ibu yang sehat, makanan tambahan yang cukup, motivasi serta niat yang kuat, perawatan payudara, dukungan dari keluarga, pengetahuan tentang pentingnya ASI, serta teknik menyusui yang baik dan benar.
Bila pemberian ASI berjalan baik, "pabrik" akan berproduksi dengan baik. Begitu dikosongkan (diisap si kecil), tubuh segera memproduksi lagi.Di minggu pertama (4 -6 hari), payudara menghasilkan kolostrum, yaitu ASI awal berupa cairan kekuningan yang mengandung zat-zat kekebalan yang sangat penting untuk melindungi bayi dari infeksi saluran pencernaan.
Jika ASI mencukupi, bayi tak perlu diberi makanan tambahan sampai ia berumur 6 bulan (ASI eksklusif). Jika ternyata tak cukup, bisa diberi susu formula. Susu formula yang tepat adalah yang disukai bayi, yang membuat beratnya bertambah, tak menyebabkan muntah, kembung, dan diare, serta tak menimbulkan alergi.
*6 bulan
Mulai usia 6 bulan bayi dapat diberi buah-buahan seperti pisang dan pepaya dengan cara dikerok ataupun dibuat jus. Makanan padat bayi pertama, yaitu makanan lumat, juga bisa diperkenalkan, semisal bubur susu dari tepung. Ia pun dapat diberikan biskuit lunak. Baik makanan padat maupun buah, berikan 1 kali sehari.
Penting diingat, makanan ini bukan pengganti ASI, melainkan tambahan selain ASI/susu formula.ASI tetap diberikan selama beberapa waktu, bahkan selama mungkin hingga suatu saat makanan keluarga dapat sepenuhnya menggantikan peran ASI untuk memenuhi kebutuhan zat gizi anak.
*6-7
Saat ini bayi dapat diberi nasi tim yang merupakan makanan lunak campuran dan mengandung nutrien lengkap. Disebut lengkap karena terdiri dari beras, bahan makanan sumber protein hewani (hati, daging cincang, telur, ikan), dan bahan makanan sumber protein nabati (tempe, tahu), sayuran hijau, buah, serta wortel.
Selama periode ini, nasi tim disaring lebih dulu untuk memudahkannya menelan serta tak banyak mengandung serat yang dapat mempersulit pencernaan.
*8-12 bulan
Mulai usia ini, nasi tim dapat menggantikan bubur susu sepenuhnya, yaitu sebagai makan pagi, makan siang, dan makan malam. Sedangkan di atas usia 12 bulan, anak boleh diberi makanan sama seperti anggota keluarga lainnya. Tentu saja, dipilih yang lunak dulu.
Martin